neuroscience di balik rima

mengapa slogan yang berakhiran nada sama lebih mudah dipercaya otak

neuroscience di balik rima
I

Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa nasehat nenek moyang atau slogan iklan begitu mudah menempel di kepala kita? Coba ingat-ingat pepatah klasik seperti "bersih pangkal sehat, rajin pangkal pandai". Atau mungkin slogan kampanye politik dan iklan komersial yang bunyinya berakhiran sama. Saat kita mendengarnya, ada perasaan magis di dalam batin yang membisikkan bahwa kalimat itu pasti benar. Saya sendiri sering kali tanpa sadar mengangguk setuju pada klaim yang berima, padahal kalau dipikir ulang secara logika, korelasi sebab-akibatnya kadang tidak ada. Ternyata, kita semua sedang masuk ke dalam sebuah jebakan manis yang dirancang tanpa sengaja oleh alam untuk meretas otak kita. Jebakan ini bukan sekadar trik bahasa biasa. Ini adalah murni fenomena biologis.

II

Mari kita mundur sejenak ke ribuan tahun yang lalu. Jauh sebelum manusia menciptakan sistem tulisan, nenek moyang kita sangat mengandalkan tradisi lisan untuk bertahan hidup. Mereka harus mengingat rute navigasi bintang, jenis jamur mana yang beracun, hingga hukum adat suku. Bagaimana cara mereka menyimpan data vital sebanyak itu tanpa buku catatan? Jawabannya adalah rima dan ritme. Rima adalah flashdisk purba milik peradaban manusia. Otak kita berevolusi untuk menjadi alat pendeteksi pola yang sangat peka. Ketika ada nada atau bunyi yang berulang, otak meresponsnya sebagai sebuah harmoni yang teratur. Masalahnya, insting bertahan hidup yang dulu menyelamatkan nyawa spesies kita ini, sekarang justru menjadi kelemahan terbesar kita di era informasi. Kita jadi memiliki bias terselubung: kita kerap menilai kebenaran suatu pesan bukan dari fakta kerasnya, melainkan dari seberapa enak kalimat itu menari di gendang telinga kita.

III

Untuk melihat seberapa parah nalar kita bisa "tertipu", mari kita bedah sebuah eksperimen psikologi yang sangat terkenal. Pada tahun 1999, dua ilmuwan kognitif, Matthew McGlone dan Jessica Tofighbakhsh, mengumpulkan sekelompok relawan. Mereka menyodorkan dua versi pepatah yang makna harfiahnya seratus persen sama persis. Versi pertama dibuat berima: "What sobriety conceals, alcohol reveals" (Apa yang disembunyikan oleh kesadaran, akan diungkapkan oleh alkohol). Versi kedua diubah sedikit agar tidak berima: "What sobriety conceals, alcohol unmasks". Teman-teman bisa menebak hasilnya? Mayoritas relawan menilai versi pertama jauh lebih masuk akal dan memuat kebenaran hakiki dibandingkan versi kedua. Padahal isi pesannya sama sekali tidak berbeda. Kenapa hanya karena satu kata diganti, tingkat kepercayaan manusia bisa langsung anjlok secara drastis? Apa yang sebenarnya diam-diam terjadi di dalam jaringan saraf kita saat mendengar rima, sampai-sampai daya kritis kita mendadak lumpuh?

IV

Misteri ini bisa dijawab oleh sebuah prinsip fundamental dalam neurosains: otak manusia pada dasarnya adalah organ yang pemalas. Ya, otak kita dirancang secara evolusioner untuk sangat pelit energi. Saat memproses lautan informasi, otak selalu mencari jalan pintas atau heuristics. Di sinilah konsep yang disebut cognitive fluency atau kelancaran kognitif mengambil alih kendali. Ketika sebuah kalimat memiliki rima, jaringan neuron kita memproses untaian kata tersebut dengan sangat cepat, mulus, dan tanpa hambatan. Nah, celakanya, otak kita sering keliru menafsirkan rasa "lancar" ini. Karena informasinya sangat mudah dicerna, pusat logika rasional kita di prefrontal cortex menjadi malas melakukan pengecekan fakta. Ia menganggap bahwa sesuatu yang mudah diproses sama dengan sesuatu yang pasti benar. Ilmuwan menyebut bias kognitif ini sebagai Rhyme-as-Reason effect. Lebih parahnya lagi, setiap kali otak kita berhasil memprediksi akhiran kata yang berima, otak akan melepaskan percikan dopamin. Kita merasa puas. Para pengiklan, politisi, hingga pembuat berita hoaks sangat memahami celah neurologis ini. Mereka tahu persis, jika mereka bisa membuat kita merasa nyaman dengan ritme suara, mereka bisa menyelundupkan agenda apa saja ke alam bawah sadar kita.

V

Menyadari hal ini mungkin membuat kita merasa sedikit kecolongan. Tapi jangan terlalu keras pada diri sendiri, teman-teman. Jatuh cinta pada kalimat bersajak bukan berarti kita bodoh. Ini hanya membuktikan bahwa kita adalah manusia seutuhnya, yang masih membawa sisa-sisa perangkat keras evolusi di dalam tengkorak kita. Otak kita memang diciptakan untuk mencintai keindahan, harmoni, dan keteraturan puitis. Namun, di era modern di mana manipulasi informasi menyebar seperti wabah, kita dituntut untuk sedikit lebih mawas diri. Lain kali, jika kita mendengar slogan yang sangat renyah di telinga, entah itu tawaran investasi instan, janji manis kampanye, atau solusi kesehatan ajaib, mari ambil jeda bernapas sejenak. Ayo kita paksa prefrontal cortex kita untuk menyala dan bekerja lembur sedikit saja. Mari kita kupas bungkus bahasanya dan kita uji isi faktanya secara telanjang. Karena pada akhirnya, kita harus sadar, bahwa tidak semua yang bersajak itu layak untuk dipijak.